Keringat di Balik Baju Hazmat

Oleh Neni Eka Ramadhani

 

“Dua warga negara Indonesia positif terjangkit virus corona usai melakukan kontak dengan seorang warga negara Jepang yang juga terinfeksi virus corona. Sontak, banyak masyarakat Indonesia yang mengalami kepanikan akibat wabah virus corona yang telah masuk ke Indonesia.”

Suara pewara berita terdengar dari benda elektronik pandang dengar berbentuk kotak besar tersebut. Ya, virus corona sekarang sudah masuk ke Indonesia. Hal itu menyebabkan kepanikan bagi warga Indonesia.

Dddrrttt ddrrrtttt..

Raina mengalihkan pandangannya dari pembaca berita saat terdengar bunyi getar ponsel yang ia taruh di atas meja samping televisi. Tanpa berpikir panjang lagi, Raina segera beranjak dari sofa yang ia duduki dan berjalan untuk menerima panggilan.

“Halo,” ucapnya setelah mengangkat telepon.

“Halo.. Dok, di rumah sakit kita telah ada pasien yang positif corona. Bisakah dokter ke rumah sakit sekarang?”

     Dengan mata membelalak, Raina menjawab.

 “Baiklah, saya akan segera ke sana”.

Raina langsung mematikan telepon dan menyambar kunci mobil yang dia taruh di atas nakas. Dia menuju mobil dengan sedikit berlari. Setelah membuka pintu mobil, ia bergegas masuk dan menyalakan mobilnya. Mobil dikendarainya dengan kecepatan sedang. Namun, hatinya agak tegang juga setelah mendengar kabar itu. Dalam benaknya terbayang kondisi Indonesia ke depan terkait dengan penyebaran virus ini. Indonesia sudah menjadi negara yang terdampak. Ke depannya, bagaimana nasib bangsa ini, apakah segera teratasi atau semakin memburuk? Raina menarik napas panjang sambil geleng-geleng kepala.

***

   Sampai di tujuan, Raina segera menuruni mobil, menutup pintu, dan segera menguncinya. Raina bergegas pergi ke ruang penyimpanan Alat Perlindungan Diri (APD) untuk segera melindungi tubuhnya. Raina memandang baju istimewa tersebut dengan mata nanar. Banyak orang menyebut baju itu dengan APD, sementara beberapa yang lain menyebutnya baju hazmat. Baju hazmat (hazardous materials atau bahan-bahan berbahaya) atau dikenal juga dengan nama baju dekontaminasi, adalah perlengkapan perlindungan pribadi yang biasa digunakan oleh pemadam kebakaran dan teknisi darurat medis.

Raina tak pernah berpikir ia akan berada dalam kondisi darurat dan memakai baju itu. Namun, kini ia harus memakainya. Segera digunakannya baju istimewa itu dengan cermat. Setelah dirasa sudah cukup rapat dan sesuai dengan persyaratan, dia segera menuju ruang isolasi bersama beberapa perawat untuk menangani pasien positif Covid-19.

Beberapa pertanyaan disampaikannya kepada pasien dengan lemah lembut agar pasien tidak bertambah panik setelah mereka tahu dalam kondisi positif Covid-19. Sambil mengerjakan tugas rutinnya sebagai seorang dokter, mulutnya tidak berhenti bercerita agar pasien tidak semakin takut apalagi melihat semua tenaga medis berbaju seperti astronot. Suara gurauannya pun dimunculkan. Karena kalau hanya tersenyum, pasien tidak bisa melihat senyum  ramahnya. Cara ini ia lakukan untuk mengatasi pasien yang merasa was-was dengan kondisinya.

Raina dan beberapa perawat yang lain sudah selesai menangani pasien. Mereka kembali ke ruang penyimpanan untuk melepas Alat Perlindungan Diri (APD) yang mereka pakai.

“Haaaahhhh…” Raina mengembuskan napas panjang setelah melepaskan semua bajunya. Sepertinya dia memang benar-benar kelelahan.

“Dok, saya khawatir keadaan akan semakin memburuk dan pasien positif Covid-19 semakin bertambah,” ucap salah satu perawat yang diketahui bernama Sevi.

Perawat lain hanya diam meskipun mereka sedikit membenarkan apa yang dikatakan Sevi.

“Saya khawatir karena cepatnya penularan virus Covid-19 dan masih kurang memadainya peralatan medis kita,” Sevi melanjutkan.

Raina berpikir sebentar, memang ada benarnya apa yang dikatakan Sevi. Peralatan medis yang ada di Indonesia masih kurang memadai.

“Semoga saja keadaannya tidak semakin memburuk. Kita sama-sama berdoa saja.” Hanya itu yang keluar dari mulut Raina. Dia juga sedikit bingung dan khawatir dengan keadaan saat ini.

Karena terlalu lelah, Raina memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Dia hanya ingin menghilangkan rasa penat yang ia rasakan. Mungkin ia bisa pulang besok pagi.

***

     Hari sudah pagi. Sang surya pun sudah mulai menyapa bumi dengan rona jingganya di ufuk timur.

“Hoaaahhmmm.” Si dokter yang kelelahan itu sudah terbangun dari tidurnya.

Masih dengan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul dan dengan kantong matanya terlihat begitu jelas, ia berjalan gontai ke arah toilet untuk mencuci mukanya. Sebenarnya ia juga ingin sekalian menggosok giginya. Tapi sayangmya ia tidak membawanya. Untuk cuci muka pun dia hanya memakai air.

Selesai dari toilet, Raina memutuskan untuk langsung pulang. Dia memang tidak ada jadwal di rumah sakit hari ini.

“Selamat pagi, Dokter Raina.”

“Selamat pagi.”

Seperti itulah kata yang diucapkan oleh para pegawai rumah sakit, perawat maupun dokter lain yang Raina temui saat perjalanan menuju parkiran. Raina pun membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Dia  juga sesekali ikut menyapa mereka.

Setelah berjalan melewati koridor demi koridor rumah sakit, akhirnya Raina sampai di mobil yang ia parkirkan di tempat parkir khusus karyawan. Dari jauh sudah dinyalakan remote di tangannya untuk membuka pintu mobil, lalu ditancapkannya kunci  pada lubang dan mengegasnya. Seperti biasa, dia memilih menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Masih melayang dalam ingatannya bagaimana kondisi pasien-pasien tadi. Ada yang sesak napas, batuk-batuk pilek, ataupun panas tubuh yang tinggi.

Tanpa sadar, dia sudah sampai di rumahnya. Raina memarkirkan mobilnya setelah pintu gerbang rumahnya dibukakan oleh Pak Sapto, satpam Raina. Ucapan terima kasih tak lupa dia katakan. Pintu rumah terlewati. Sapaan hangat terlontarkan dari Bi Surti, pembantu Raina.

“Pagi, Mbak. Saya sudah menyiapkan makanan di meja makan.”

“Pagi juga, Bi. Oh iya, terima kasih. Tapi aku mandi dulu ya, Bi. Setelah mandi, baru sarapan.”

“Oh iya, Mbak”.

Raina pergi ke kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi. Sentuhan segar air mulai mengaliri tubuhnya. Kelelahan yang dialaminya semalam sudah hilang diguyur air. Rasa lapar mulai mendatanginya. Ia bergegas ke ruang makan untuk menikmati masakan Bi Surti yang selalu istimewa menurutnya.

Selesai makan, rupanya acara televisi mulai menggodanya sebagai teman pelepas penat. Sambil berbaring meluruskan punggungnya, Raina menikmati acara televisi. Berita tentang perkembangan kasus Covid-19 harus diikutinya.

“Kasus pasien positif Covid-19 bertambah pada hari ini … ”

     Wajahnya semakin tegang ketika deret-deret angka kasus pasien Covid -19 dari masing-masing daerah terbaca oleh penglihatannya.

“Kasus pasien Covid-19 kini semakin meningkat. Guna mengurangi penyebaran virus tersebut, pemerintah meliburkan sekolah dan kantor. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan segala aktivitas seperti belajar dan bekerja di rumah saja. Jaga jarak minimal satu meter dan tidak bergerombol.”

     Sudah beberapa minggu setelah merebaknya virus Covid-19, kasus pasien yang positif di Indonesia semakin meningkat. Bahkan pemerintah sampai meliburkan sekolah dan kantor untuk mengurangi penyebaran virus tersebut. Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah adalah salah satu usaha penekanan penyebaran virus.

***

Raina, beberapa dokter, dan beberapa perawat tengah menangani pasien Covid-19. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Mereka bahkan belum istirahat sejak pagi tadi. Mereka disibukkan oleh bertambahnya pasien yang datang. Alat pelindung diri tak boleh dilepas karena ketika melepasnya, mereka harus menggantinya dengan yang baru. Sementara, jumlah baju istimewa itu masih terbatas.

Merekalah pejuang kemanusiaan. Posisi mereka paling depan. Keringat yang mereka cucurkan adalah demi kemaslahatan umat. Keringat yang mereka cucurkan untuk menyejahterakan bangsa ini.  Jika mereka lengah, maka kematian akan terus bertambah. Mereka harus kuat dan sabar menghadapi musuh yang tidak jelas. Obat pun masih mencoba-coba.

Doa juga sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti itu. Saling menguatkan sesama teman, saling mendoakan, dan saling menghibur terus dilakukan. Pasien harus segera ditangani. Itulah prinsip utama mereka. Siapa lagi yang memperjuangkan kesehatan pasien kalau bukan mereka?  Tekad juga harus disatukan di antara mereka, tekad untuk terus berjuang terus maju pantang  mundur.***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.