Iptek didukung oleh dua faktor dari pelaku iptek tersebut, yakni IQ dan EQ. IQ (Intelligence Quastion) adalah tingkat kecerdasan dalam menangkap sesuatu. Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.

IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.

Kesuksesan yang ingin dicapai dibutuhkan bukan hanya “cognitive intelligence” tetapi juga “emotional intellegence”. Emotional intellegence atau disingkat EQ adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi(Cooper dan Sawaf, 1998). Ataupun kemampuan untuk untuk mengendalikan hal-hal negatif seperti kemarahan dan keragu-raguan atau rasa kurang percaya diri dan juga kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal positif seperti rasa percaya diri dan keharmonisan dengan orang-orang disekeliling.

Perlunya emotional intelligence dalam dunia kerja merupakan suatu bidang yag seringkali dianggap lebih banyak menggunakan “cara berpikir analitis” daripada melibatkan perasaan atau emosi. Menurutnya setiap orang dalam perusahaan atau organisasi dituntut untuk memiliki EQ yang tinggi. Selain itu IQ bersifat relatif tetap, sementara EQ dapat berubah sehingga bisa dibentuk dan dipelajari.

Sedangkan persentase ketergantungan IQ terhadap keberhasilan seseorang (siswa) hanyalah 20%. Sedangkan 80% yang lainnya lebih didominasi oleh faktor yang lain (Goleman 1997)

Sedangkan prinsip iptek itu sendiri yakni: konsep dasar sains, dan konsep dasar teknologi. Konsep dasar sains mencakup unsur-unsur fundamental minimal: taraf dan keadaan ilmu pengetahuan yang sekarang dan perkembangannya, aktivitas dinamis yang berlandaskan konsep “heuristic” berkonotasi kepada upaya pengungkapan atau penemuan diri, dan fungsi ilmu pengetahuan. Konsep dasar teknologi mencakup unsur-unsur dasar minimal: makna teknologi, taraf keadaan, jenis-jenis teknologi yang ada dan pemanfaatannya pada saat ini, dan aktivitas dinamis berlandaskan konsep dinamis “creativity” secara konkrit menciptakan atau memodifikasi teknologi sederhana yang dapat ditemukan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kawasan bahan ajar kedua tipe tersebut minimal mencakup pengembangan domain kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.