PEMIMPIN MADSANEBA, IBU ANIQOTUZ ZUHROH


Kota Blitar – Siapa yang tak kenal kepala madrasah kita yang satu ini? Ya, Ibu Aniqotuz Zuhroh atau kerap disapa ‘Bu Aniq’, adalah perempuan kelahiran Tulungagung, 7 Juli 1972. Beliau tinggal di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Ibu Aniq adalah ibu dari tiga orang anak yang kini sudah beranjak dewasa.

Sebelum menjadi kepala madrasah di MTsN 1 Kota Blitar, Ibu Aniq pernah menjadi guru di beberapa sekolah, yaitu MTsN 3 Kota Kediri (MTsN Mojoroto), MTsN 1 Kota Blitar, MAN Kota Blitar, dan kembali lagi di MTsN 1 Kota Blitar sebagai kepala madrasah.

Dulunya, Ibu Aniq mengenyam pendidikan di IAIN Malang pada jurusan PAI dan lulus dengan gelar ‘S.Ag.’, selanjutnya beliau kembali mengenyam pendididikan dengan jurusan manajemen pendidikan islam di universitas yang ada pada kota kelahirannya, yaitu IAIN Tulungagung dan lulus dengan gelar ‘M.Pd.I.’.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala madrasah, Ibu Aniq sulit melupakan pengalamannya ketika mengantarkan siswa-siswinya dalam meraih berbagai prestasi. Bagi beliau, terdapat suatu kesan tersendiri sebagai kepala madrasah ketika anak didiknya meraih prestasi yang gemilang.

Pengalaman yang sulit dilupakan lainnya adalah dalam hal pembentukan karakter, apalagi Ibu Aniq dilantik menjadi kepala madrasah ketika covid mulai menyerang sehingga pembelajaran dilakukan secara daring. Menurut beliau, pembentukan karakter sulit dilakukan jika hanya lewat media. Sehingga ketika pembelajaran mulai dilakukan secara luring, Ibu Aniq benar-benar baru merasakan bagaimana menangani pembentukan karakter siswa-siswinya.

Selain pengalaman mengesankan, Ibu Aniq juga memiliki kesulitan dalam menjadi kepala madrasah, yaitu adanya evaluasi program kerja. Solusi dari kesulitan ini adalah diadakannya dialog interaktif, kegiatan ini dilakukan dengan masing-masing kelas mengirimkan perwakilan yang akan menyampaikan hal-hal yang sekiranya harus diperbaiki pihak madrasah. Dialog interaktif inilah yang memudahkan Ibu Aniq dalam mengetahui permasalahan siswa-siswinya sehingga dapat melakukan evaluasi program kerja.

Selama menjadi kepala madrasah, tentu Ibu Aniq memiliki cita-cita yang beliau harap bisa diraih oleh siswa-siswinya. Cita-cita yang pertama adalah keseimbangan dalam mendapatkan prestasi akademik dan non-akademik. Artinya, Ibu Aniq tidak ingin akademik kalah dengan non-akademik. Menurut beliau, jika prestasi akademik yang didapatkan bagus maka prestasi bidang lain juga akan mengikuti.

Cita-cita selanjutnya, diterimanya siswa-siswi MTsN 1 Kota Blitar pada sekolah lanjutan yang ‘favorit’, yaitu sekolah yang mampu menjaga prestasi dan menjadi wadah untuk prestasi selanjutnya agar segala prestasi yang telah diraih selama di madrasah tidak sia-sia.

Bagaimana? Keren sekali ya, kepala madrasah kita ini. Yuk, kita banggakan ‘madsaneba’ dengan segala prestasi yang bisa kita raih. Madsaneba, jaya luar biasa!

 

-Ariadna Athalia-